Data Inovasi

Innovation is a process by which a domain, a product, or a service is renewed and brought up to date by applying new processes, introducing new techniques, or establishing successful ideas to create new value. The creation of value is a defining characteristic of innovation.

GENTING SENI (GERAKAN PENCEGAHAN STUNTING SEJAK DINI)

Tahapan Inovasi : Penerapan
Digital : Non Digital
Inisiator Inovasi : OPD
Bentuk Inovasi : Inovasi Pelayanan Publik
Tujuan Inovasi :

Genting Seni (Gerakan Pencegahan Stunting Sejak Dini) Puskesmas Sibande bertujuan menangani permasalahan stunting khususnya di wilayah Kecamatan STU Jehe. Sasaran Genting Seni adalah :

  1. Meningkatkan pengetahuan tentang pencegahan stunting sejak dini pada usia remaja (12-18 tahun);
  2. Meningkatkan pengetahuan tentang pencegahan stunting kepada ibu, bayi dan balita, ibu hamil, calon ibu, calon ayah, keluarga bayi, dan masyarakat umum;
  3. Meningkatkan gizi masyarakat melalui pemberian makanan tambahan kepada balita, ibu hamil dan menyusui, serta remaja putri;
  4. Meningkatkan kualitas dan keragaman pangan melalui modifikasi dan pemberian makanan tambahan berbasis produk lokal (kearifan lokal) kepada balita; dan
  5. Meningkatkan kapasitas kader kesehatan tentang penanganan stunting.
Manfaat Inovasi :
  1. Meningkatkan pengetahuan masyarakat khususnya kelompok sasaran yaitu remaja putri, calon pengantin dan ibu tentang pencegahan stunting. 
  2. Meningkatkan konsumsi pangan berimbang dan bergirzi melalui pemberian makanan tambahan.
  3. Meningkatkan kesehatan ibu dan calon ibu melalui pemberian tablet penambah darah. 
  4. Meningkatkan kapasitas kader dan tenaga kesehatan dalam penanganan stunting. 
Hasil Inovasi :
  1. Mencegah dan menurunkan kasus stunting di wilayah UPT Puskesmas Sibande
  2. Mencegah dan menurunkan stunting di Kab. Pakpak Bharat.
Waktu Uji Coba : 2023-01-02
Waktu Implementasi : 2023-02-02
Rancang Bangun Inovasi :

Kasus stunting masih menjadi permasalahan global termasuk Indonesia yang memerlukan penanganan serius seluruh pihak sehingga program penanganan stunting merupakan program prioritas nasional. Berdasarkan data Asian Development Bank, prevalensi stunting di Indonesia sebesar 31,8% pada Tahun 2018. Menurut standar WHO, suatu wilayah dianggap kronis jika prevalensinya di atas 20%. Selanjutnya pada tahun 2022, berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, angka stunting Indonesia berhasil turun menjadi 21,6%.

Pada Tahun 2022, prevalensi stunting Sumatera Utara sebesar 21,1% dan Kabupaten Pakpak Bharat sebesar 30,8%. Kasus stunting di Pakpak Bharat tergolong sangat tinggi dengan urutan ke empat di Provinsi Sumatera Utara. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kab. Pakpak Bharat bulan Agustus 2023, prevalensi stunting masing-masing kecamatan adalah Kecamatan Kerajaan 19,53%, Kec. Salak 17,98%, Kec. Kerajaan 19,53%, Kec. Sitellu Tali Urang (STU) Jehe 14,87%, Kec. Pergetteng-getteng Sengkut 14,52%, Kec. Sitellu Tali Urang Julu 17,92%, Kec. Tinada 14,72%, Kec. Siempat Rube 10,55%, dan Kec. Pagindar 8,13%.

Pemerintah Kabupaten Pakpak Bharat melakukan penanganan yang serius terhadap tingginya kasus stunting, salah satunya diatur melalui Peraturan Bupati Nomor 40 Tahun 2019 tentang Percepatan Penurunan Stunting di Kabupaten Pakpak Bharat. Ruang lingkup dan sasaran kegiatan penurunan stunting meliputi Intervensi Gizi Spesifik dan Intervensi Gizi Sensitif yang melibatkan seluruh unsur daerah terkait seperti Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian, Dinas Sosial dan juga Pemerintahan Desa. Fasilitas kesehatan di seluruh Pakpak Bharat didorong menangani stunting secara cepat dan terintegrasi melalui kreatifitas dan inovasi.

Kasus stunting di Kec. STU Jehe pada akhir Tahun 2022 cukup tinggi yaitu 23,51%  dengan jumlah kasus stunting 174 dari 740 balita. Tingginya kasus stunting di Kecamatan STU Jehe disebabkan oleh beberapa hal, yaitu : 1) kurangnya pengetahuan ibu tentang gizi sebelum, saat dan setelah hamil serta masa nifas; 2) rendahnya akses terhadap makanan bergizi; 3) minimnya sumber protein hewani; 4) lingkungan yang kurang bersih; 5) kurangnya nutrisi ibu pada masa remajanya; dan 6) rendahnya pemberian asi eksklusif pada bayi. Secara spesifik di Kecamatan STU Jehe, pemberian makanan kepada balita kurang bervariasi seperti nasi dicampur mie yang keduanya sama-sama mengandung karbohidrat sehingga rendah asupan protein. Fakta lainnya adalah pemberian makanan tambahan pada bayi sangat cepat dilakukan sejak usia 2 bulan sehingga kurang asupan ASI ekslusif.

Tingginya stunting di Kec. STU Jehe mendorong Puskesmas Sibande melakukan inovasi dalam pencegahan dan penurunan stunting melalui GENTING SENI (Pencegahan Stunting Sejak Dini). Genting sendiri memiliki arti darurat mengingat jumlah balita stunting di STU Jehe cukup tinggi sehingga urgen untuk ditangani. Seni memiliki makna bahwa penanganan stunting harus ditangani secara ahli penuh ketelitian dan passion sehingga tercipta generasi emas yang sehat dan bebas stunting.

Kegiatan GENTING SENI Puskesmas Sibande meliputi :

1)   edukasi tentang stunting sejak usia kepada remaja putri yang berusia antara 12-18 tahun;

2)   edukasi tentang stunting kepada ibu bayi dan balita, ibu hamil, calon ibu, calon ayah, keluarga bayi, dan masyarakat umum;

3)   pemberian makanan tambahan kepada balita, ibu hamil dan menyusui, serta remaja putri;

4)   modifikasi dan pemberian makanan tambahan berbasis produk lokal (kearifan lokal) kepada balita; dan

5)   peningkatan kapasitas kader kesehatan tentang penanganan stunting.

Keunikan GENTING SENI terletak pada penanganan stunting sejak dini dan menyeluruh secara serentak dengan target sasaran yang tepat. Genting Seni melibatkan aktor lintas sektoral dengan kelompok sasaran yang lebih terarah dan spesifik. Persiapan pencegahan stunting dilakukan sejak dini kepada remaja putri melalui edukasi dan pemberian tablet penambah darah. Secara bersamaan dilakukan penyuluhan kepada calon pengantin yang akan menjadi calon ibu dan ayah. Di sisi lain dilaksanakan edukasi kepada ibu hamil dan keluarga bayi tentang pentingnya pencegahan stunting pada masa kehamilan dan nifas yang didukung dengan pemberian makanan tambahan kepada ibu dan bayinya. Selanjutnya diberikan makanan tambahan berupa susu dan vitamin kepada balita untuk mencegah stunting. Keseluruhan aksi pencegahan stunting dilaksanakan oleh tenaga medis dan kader kesehatan sebagai garda terdepan dalam tindakan preventif melalui perbaikan gizi. Dalam inovasi ini, tenaga medis dan kader kesehatan dilatih secara berkala tentang pencegahan stunting dan juga pembuatan makanan yang tepat untuk bayi.