Data Inovasi

Innovation is a process by which a domain, a product, or a service is renewed and brought up to date by applying new processes, introducing new techniques, or establishing successful ideas to create new value. The creation of value is a defining characteristic of innovation.

MAS BETI (Masyarakat Bebas Tuberculosis)

Tahapan Inovasi : Penerapan
Digital : Non Digital
Inisiator Inovasi : OPD
Bentuk Inovasi : Inovasi Pelayanan Publik
Tujuan Inovasi :

Untuk meningkatkan awareness dan pengetahuan masyarakat mengenai TB Paru, meningkatkan cakupan penjaringan suspek TB dan cakupan penemuan TB positif, meningkatkan jumlah kesembuhan, meminimalisir risiko penularan serta mengikis stigma buruk masyarakat mengenai penyakit TBC di wilayah kerja UPTD Puskesmas Puskesmas Lotu.

Manfaat Inovasi :
  1. Melalui Inovasi Mas Beti masyarakat dapat dengan mudah berkonsultasi dan memeriksakan dirinya kepada petugas kesehatan yang ada pada pos penjagaan yang ada di Harimbale/ Pekan/ Pasar Tradisional tanpa harus datang ke Puskesmas.
  2. Makin bertambahnya masyarakat yang mengerti dan paham dengan penyakit Tuberculosis, sehingga diharapkan dapat merubah perilaku dan kebiasaan  masyarakat untuk hidup sehat.
Hasil Inovasi :

Inovasi Mas Beti telah terlaksana dengan baik walaupun belum maksimal namun sudah ada perubahan dalam tatacara pelaksanaan penemuan kasus Tuberculosis. Sebelum adanya Inovasi ini penjaringan suspek Tuberculosis terkesan pasif, namun setelah penerapan inovasi ini penemuan kasus Suspek TB lebih cepat.

Waktu Uji Coba : 2022-01-03
Waktu Implementasi : 2022-02-01
Rancang Bangun Inovasi :

Inovasi Mas Beti diciptakan dan diterapkan sebagai tindak lanjut Peraturan Bupati Nias Utara Nomor 51 Tahun 2020 tentang Inovasi Daerah Kabupaten Nias Utara. UPTD Puskesmas Lotu  merupakan  salah satu Puskesmas yang ada di wilayah Kabupaten Nias Utara. Jumlah penduduk sebanyak 14.213 jiwa dengan kepadatan penduduk 125 jiwa/km². Wilayah kerja UPTD Puskesmas Lotu terdiri dari 13  desa dengan dengan jumlah pustu 4 (empat) unit dan jumlah poskesdes 7 (tujuh) unit.

                 Tuberculosis (TBC) masih menjadi permasalahan utama kesehatan masyarakat. Selain mempengaruhi produktifitas kerja, juga merupakan penyebab utama kematian. Tuberculosis (TBC) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman Tuberculosis (Mycobacterium Tuberculosis). Penanggulangan TBC di Indonesia mengacu pada strategi Directly Observed Treatment Short-course (DOTS) dengan standar pelayanan berdasarkan International Standard for TB Care (ISTC). Untuk SPM TBC Kabupaten Nias Utara 314 Kasus dan untuk Puskesmas Lotu sendiri sebanyak 26 kasus. Penderita TBC untuk Puskesmas Lotu  tahun 2022 sebanyak 13 Kasus.

          Selama ini kasus penemuan TB di wilayah kerja Puskesmas Lotu hanya dengan mengandalkan kunjungan pasien ke Puskesmas yang ingin berobat atau dengan rujukan dari Rumah Sakit yang pengobatannya diambil di Puskesmas namun mereka diperiksa di Rumah Sakit. Berdasarkan Informasi dari Kader dan Bidan-bidan desa mengatakan bahwa masih banyak masyarakat yang enggan memeriksakan diri ke Puskesmas dengan memiliki gejala batuk yang mengarah TBC. Masyarakat sangat sering mengonsumsi antibiotik ketika mereka batuk dan dianggap sembuh. Hal ini lah yang salah satu membuat warga tidak terlalu tertarik memeriksakan diri ke Puskesmas dan lebih memilih berobat ke mantra-mantri desa.

          Pos Pelayanan “Mas Beti” merupakan inovasi dibidang kesehatan yang membantu pencapaian target SPM.

 

Peningkatan kemandirian masyarakat memegang peranan:

a.      Penjaringan dan pelacakan suspek/kontak sehingga meningkatkan angka penemuan penderita TBC.

b.      Pendampingan Minum obat (PMO), pendampingan suspek/penderita dalam pemeriksaan dahak ulang dan pengambilan obat, menemukan dan mengenali gejala efek samping obat bahkan membantu pelacakan penderita TBC mangkir sehingga berperan membantu konversi /kesembuhan penderita TBC.

c.      Meminimalisir  faktor resiko penularan dengan peningkatan pengetahuan masyarakat dan memberi dukungan moral pada penderita TBC maupun keluarga guna mengikis stigma buruk dan diskriminasi TBC.

     Kelompok sasaran pelaksanaan inovasi Pos Penjagaan “Mas Beti” yaitu masyarakat yang datang di pekan/pasar rakyat khususnya bagi yang mengalami gejala Tuberculosis, misalnya ; batuk kronis (kadang-kadang ada bercak darah), demam, berkeringat di malam hari dan gejala lainnya. Inovasi ini dilaksanakan oleh tim yang datang ke pekan/pasar rakyat sehingga memudahkan dalam menjangkau masyarakat yang enggan ke Puskesmas untuk memeriksakan kesehatan tanpa dipungut biaya (Gratis).

Personil yang melaksanakan kegiatan ini terdiri dari tenaga dokter, tenaga promosi kesehatan, penanggungjawab program P2P, analis kesehatan dan pembina keluarga (bidan desa). Selanjutnya ketika terdapat suspek TB pada saat pemeriksaan di lokasi, maka dilakukan pengambilan sampel dahak untuk kemudian dilakukan pemeriksaan di laboratorium Puskesmas.