Data Inovasi

Innovation is a process by which a domain, a product, or a service is renewed and brought up to date by applying new processes, introducing new techniques, or establishing successful ideas to create new value. The creation of value is a defining characteristic of innovation.

Implementasi Desa Inovasi

Tahapan Inovasi : Penerapan
Digital : Non Digital
Inisiator Inovasi : OPD
Bentuk Inovasi : Inovasi Daerah lainnya sesuai Urusan Pemerintah
Tujuan Inovasi :

menjadi tahap awal yang diharapkan sebagai pemantik untuk memenuhi kebutuhan aset daerah dari segi ekonomi dan ekologi desa. Kegiatan ini mengarahkan Desa Tanjung Rejo di Deli Serdang menjadi Desa Inovasi melalui Pemanfaatan Hutan Mangrove dan Tambaknya, dalam rangka meningkatkan sarana dan prasarana desa meskipun masih berada pada masa pandemi.

Manfaat Inovasi :

Program Inovasi desa (PID), diharapkan bermanfaat bagi pembangunan desa, antara lain potensi SDA dan SDM dapat digali, enigkatnya kesejateraan masyarakat, dan menigkatnya pendapatan Asli Desa.

Program Desa Inovasi diharapkan juga dapat memberi semangat dan harapan hidup baru dalam diri masyarakat desa tanjung rejo, sehingga bisa lebih mandiri dan kreatif  serta berinovasi dalam memenuhi kebutuhan. Terurama dalam masa pamdemi saat ini, segala upaya pemulihan sosial ekonomi di desa akan sangat bermanfaat dalam menghadapi situasi Krisis dan bencana seperti Covid-19.

Hasil Inovasi :

Hasil Akhir Penelitian/Output dari penelitian ini adalah matriks indikasi program penataan dan pengembangan Desa Inovasi Tanjung Rejo dan konsep perencanaan berupa visualisasi suasana dalam jangka waktu yang ditentukan. Jangka waktu perencanaan yang akan diajukan ada 3 (tiga), yaitu jangka waktu pendek, menengah, dan jangka waktu panjang.

Luaran dari penelitian implementasi desa berinovasi Tanjung Rejo adalah :

  1. Konsep desa berinovasi dengan program jangka pendek, menengah dan panjang.
  2. Konsep dan Perbaikan Rumah Batik sebagai pusat industri kreatif berbasis bahan alami dari mangrove dan vegetasi (tanaman)
  3. Penataan dan penambahan fasilitas wisata mangrove dan budidaya kerang dan kepiting batu.
Waktu Uji Coba : 2021-11-23
Waktu Implementasi : 2021-11-23
Rancang Bangun Inovasi :

Latar Belakang

Indonesia memiliki SDA yang sangat melimpah, dan salah satunya berada pada wilayah sekitar garis pantai Indonesia. Satu dari banyaknya sumber daya laut dan pesisir yang terdapat di Indonesia adalah Ekosistem Hutan Mangrove yang berada hampir di setiap wilayah pesisir dan garis pantai, terutama pada wilayah Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan. Hutan Mangrove memiliki fungsi ekologis sebagai penyedia nutrien bagi biota perairan, tempat tinggal dan ruang berkembang biak bagi berbagai macam biota, penahan abrasi, penyerap limbah, pencegah intrusi air laut dan lain sebagainya. Hutan mangrove juga mempunyai fungsi ekonomis penting seperti penyedia kayu, daun-daunan sebagai bahan baku obat-obatan dan lain lain (Dahuri et al. 1996).

Peran Hutan mangrove sangat penting bagi ekosistem sekitarnya, seperti pelindung dari bencana alam, pemecah ombak dan angin laut, mencegah dan penahan abrasi, pencegah intrusi air laut, sebagai tempat penyedia habitat biota laut dan tempat berkembang biak, stabilisator garis pantai, tempat utama perputaran nitrogen dan sulfur, pengumpul lumpur, pembentuk lahan, penyeimbang habitat alami satwa liar, dan sebagai penyerap emisi karbondioksida terbesar. Menurut Asriyana dan Yuliana (2012), Lahan Hutan Mangrove yang digunakan juga bisa dimanfaatkan sebagai tempat kegiatan manusia bermukim, pengadaan area tambak, lahan pertanian, tempat pembibitan, dan tempat pembuangan sampah. Area pesisir pantai didominasi oleh tempat tinggalnya pedesaan yang berprofesi sebagai nelayan, bidang sektor pertanian, kehutanan, dan ditandai dengan memegang tradisi yang masih berlaku, seperti hubungan antarwarga yang masih kokoh. Desa menjadi penyokong asupan bahan mentah dan pangan kota, memiliki berbagai potensi dalam berbagai bentuk baik fisik dan nonfisik (SDA dan SDM). Kecamatan Percut Sei Tuan yang berada pada Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi Hutan Mangrove (Hutan Bakau) dan berada pada kawasan pedesaan yaitu Desa Tanjung Rejo. Potensi Hutan Mangrove merupakan sebuah terobosan untuk menciptakan peningkatan nilai ekologis sekaligus ekonomis, dengan memanfaatkan hasil alam.

Dusun XIV Desa Tanjung Rejo berada pada kawasan mangrove dan tambak di Kecamatan Sei Percut, berpenghasilan rata-rata sebagai nelayan dan telah memproduksi ikan sebesar 7.449,07 ton (Deli Serdang Dalam Angka 2020). Menurut dokumentasi dalam Angka 2020, produksi ikan telah mengalami penurunan dengan angka yang lebih besar dibandingkan tahun 2019 lalu. Penurunan itu ditandai oleh pengalihan fungsi lahan menjadi kebun sawit atau tambak ikan yang menyebabkan terabrasinya pantai dan naiknya harga hasil tangkapan laut yang tidak sesuai dengan produk yang tersedia. Dari hasil tinjauan lokasi, terdapat habitat burung laut seperti burung bangau yang tersebar di kawasan Desa Tanjung Rejo. Meningkatnya area lahan sawit pada lokasi menjadi keterbatasan area mangrove dan tambak. Hal ini menurunkan nilai ekologis dan kualitas ruang terhadap para nelayan dikarenakan kurangnya area pembibitan dan lahan basah yang tersedia. Penanganan terhadap Hutan Mangrove dan tambak akan memperbaiki kualitas biodiversitas pada kawasan desa.

Dusun XIV Desa Tanjung Rejo memiliki peluang untuk mengembangkan UMKM dari penjualan hasil biota mangrove dan hasil olahan pohon mangrove, seperti pemanfaatan buah pohon mangrove yang dapat diolah menjadi makanan dodol atau sirup, dan batang kayu pohon mangrove juga dapat diolah menjadi tinta untuk membatik. Potensi ini dapat menjadi nilai lebih bagi desa karena memiliki ciri khas dari warna tinta dan jenis pohon mangrove yang ada di Desa Tanjung Rejo. Hasil biota Mangrove seperti kepiting, kerang, udang, dan ikan tambak menjadi potensi sasaran kuliner seafood bagi masyarakat dalam dan luar desa. Kawasan kuliner hadir sebagai area rekreasi yang memberikan nuansa alam yaitu konsep yang berbeda dengan perkotaan. . Potensi-potensi yang ada di Desa ini dapat dikembangkan menjadi sebuah inovasi desa melalui desa wisata dan industri kreatif berbahan mangrove dan vegetasi setempat. Wisata yang dapat ditampilkan seperti ruang rekreasi Hutan Mangrove, Wisata Air, Wisata Fishery, dan Wisata Edukasi, Eco Wisata, dan Wisata kuliner. Wisata Edukasi menjadi titik pusat area berkumpulnya para peneliti dan sasaran Kampus Belajar Merdeka. Pengembangan industri kreatif dapat ditampilkan seperti pengembangan UKM dan pengeadaan balai kreasi indusri krreatif berbahan mangrove

Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), mencanangkan sebuah terobosan baru dalam rangka untuk meningkatkan pembangunan di daerah pedesaan yang telah dimulai pada akhir tahun 2017. Dengan terobosan yang telah dicetuskan oleh PDTT dan sejak sebelum memasuki masa pandemi, hal ini menjadi penerus landasan penelitian yang diharapkan dapat memacu pertumbuhan ekonomi desa. SDA dan SDM pedesaan diyakini memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan dan menjadi sumber utama pendorong produktivitas dan pengembangan kewirausahaan sebuah pedesaan itu sendiri. Tujuan dilakukannya sebuah inovasi desa adalah menjadi pembaharuan yang dapat membawa kemakmuran bagi masyarakat melalui peningkatan penghasilan desa. Dengan meningkatnya penghasilan, maka kebutuhan sandang dan papan pada setiap keluarga dapat terpenuhi.