Data Inovasi

Innovation is a process by which a domain, a product, or a service is renewed and brought up to date by applying new processes, introducing new techniques, or establishing successful ideas to create new value. The creation of value is a defining characteristic of innovation.

Tapanuli Utara Bersih dari Stunting (TAPASIDUNG)/Dinas Kesehatan Kab.Tapanuli Utara

Tahapan Inovasi : Penerapan
Digital : Non Digital
Inisiator Inovasi : Masyarakat
Bentuk Inovasi : Inovasi Daerah lainnya sesuai Urusan Pemerintah
Tujuan Inovasi :

1. Menurunkan angka stunting, gizi kurang/gizi  buruk di   Tapanuli  Utara         

2. Menurunkan angka Pusat  kematian  balita akibat gizi buruk/kurang dan stunting di Tapanuli utara

Manfaat Inovasi :

1. Meningkatkan status gizi masyarakat(gizi kurang/buruk dan stunting) di Tapanuli  Utara dalam rangka perbaikan gizi masyarakat

2. Meningkatkan status gizi masyarakat di Tapanuli  Utara dalam rangka perbaikan gizi masyarakat.

Hasil Inovasi :

1. Berhasil menekan penurunan angka stunting di tapanuli utara

2. Memberikan pemahaman pengolahan tanaman kelor sebagai salah satu intervensi dalam penurunan stunting

3. berhasil memberikan intervensi terpusat dalam menurunkan angka kematian balita akibat gizi buruk dan stunting di tapanuli utara

4. berhasil meningkatkan status gizi masyarakat khususnya balita di tapanuli utara dalm rangka perbaikan gizi masyarakat

Waktu Uji Coba : 2021-05-04
Waktu Implementasi : 2021-08-04
Rancang Bangun Inovasi :
  1. Pembudidayaan  dan Pemanfaatan    Daun  Kel Moringa   oleifera   sering   disebut or.  Tanaman  kelor  atau sebagai  The  Miracle Tree  (Pohon Ajaib).  Hal  ini disebabkan  karena begitu    banyaknya    manfaat   dari tanaman  ini khususnya  kandungan nutrisi   yang  dimiliki   tanaman   ini sehingga termasuk kedalam superfood  atau  pangan fungsional yang bergizi tinggi.Untuk mendukung program Dinas Kesehatan Tapanuli Utara "Tapasidung", maka  dilakukan penyemaian bibit kelor   sampai penanaman pohon kelor lalu dibagikan   kepada   Puskesmas untuk ditanam di lahan Puskesmas dan   lahan    masyarakat wilayah kerja Puskesmas masing-masing sehingga pada akhirnya dapat dikonsumsi oleh masyarakat untuk meningkatkan kekebalan tubuh anak dari gizi  buruk dan stunting. Daun  kelor banyak  digunakan untuk membantu meningkatkan produksi ASI pada ibu menyusui. Namun tanaman herbal ini juga ternyata baik untuk menunjang kesehatan  tubuh  mulai  dari tekanan darah hingga membantu mencegah penyakit kanker. Daun kelor  ternyata  kaya zat  besi  dan kalsium. Zat ini sangat dibutuhkan oleh ibu hamil  di  1000  hari keemasan seorang anak. jadi daun kelor ini diolah dalam berbagai bentuk olahan makanan dan minuman untuk dikonsumsi para balita.
  2. Pelayanan TFC (Therapeutic Feeding  Centre)  atau   PPG   (Pusat Pemulihan  Gizi).  TFC  adalah pusat pemulihan gizi kurang/buruk dengan perawatan serta pemberian  makanan  anak  secara intensif  dan  adekuat  sesuai   usia dan kondisinya,  dengan melibatkan   peran  serta   orangtua (ibu)  agar  dapat mandiri   dan ketika   kembali   ke  rumah. TFC merupakan ternpat pemberian makanan tambahan disertai dengan terapi   diet dan medis pada anak yang menderita   gizi buruk/kurang. Sasaran   TFC meliputi  balita  gizi  buruk dan gizi kurang   dilakukan   penapisan  dan pemantauan   pertumbuhan  balita  di   semua  Posyandu, balita  yang hasil  penimbangannya  pada Kartu Menuju   Sehat   (KMS)   berada   di bawah   garis    m erah   (BG M )    atau selama 2  (dua)  kali  berturut-turut berat   badannya   tidak   naik   yang dikenal    dengan    istilah    2T   serta balita     BG M     dan    2T    dilakukan penapisan   dengan menilai   berat badan  dibanding    panjang    badan atau   tinggi   badannya.Jika   balita tersebut  term asuk  kategori   ballta gizi   buruk   dan   balita   gizi   kurang maka balita tersebut perlu mendapat penanganan (intervensi)     di     TFC.     Pelayanan dengan    m enerapkan   tatalaksana anak   gizi    buruk    oleh    tim    yang sudah    terlatih   (dokter,    peraw at dan   ahli   gizi).   Di lakukan   dengan m engacu   pada   buku   tatalaksana  anak        gizi        buruk,        meliputi penanganan  pada fase stabilitasi, fase transisi, dan fase rehabilitasi